https://ejournal.iahntp.ac.id/index.php/Satya-Sastraharing/issue/feedSatya Sastraharing : Jurnal Manajemen2026-01-22T10:34:20+00:00I Putu Widyantoputuwidyanto@gmail.comOpen Journal Systems<p>Satya Sastraharing : jurnal manajemen memuat berbagai artiket dalam bidang Manajemen baik itu manajemen agama hindu, manajemen pendidikan, manajemen kepemimpinan, maupun manajemen sumber daya manusia. </p>https://ejournal.iahntp.ac.id/index.php/Satya-Sastraharing/article/view/1534Best Practice Layanan Bimbingan dan Konseling Individual dalam Meningkatkan Etika Kristen di Sekolah Dasar2026-01-22T10:34:19+00:00Michael Alan Hirdi Pukadamichael.alan.hirdi.pukada@gmail.comYari Dwikurnaningsihyari.dwikurnaningsih@uksw.eduJ. T. Lobby Loekmonolobby.loekmono@uksw.edu<p><em>Artikel ini menjawab kesenjangan antara pemahaman dan perilaku etika Kristen di sekolah dasar. Tujuannya adalah mendeskripsikan best practice layanan bimbingan konseling individual melalui studi kualitatif dengan teknik wawancara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan konseling integratif yang memadukan storytelling biblika (konseling naratif) dengan intervensi spiritual seperti doa, terbukti efektif dalam mengatasi masalah etis siswa. Keberhasilan ini didasari oleh rapport kuat yang dibangun melalui konsistensi guru sebagai model peran. Disimpulkan bahwa praktik baik ini mampu secara efektif mentransformasikan pemahaman etika menjadi perilaku yang terinternalisasi. Model ini menawarkan kerangka kerja teruji, personal, dan spiritual yang dapat direplikasi untuk meningkatkan pembinaan karakter di sekolah lain.</em></p>2025-12-31T00:00:00+00:00##submission.copyrightStatement##https://ejournal.iahntp.ac.id/index.php/Satya-Sastraharing/article/view/1533Best Practice "Layanan Orientasi Ceria untuk Mendampingi Transisi Anak dari PAUD ke SD2026-01-22T10:34:19+00:00Chrisma Prateila Kusumaningsihchrismaprateila@gmail.comJt. T. Lobby Loekmonolobby.loekmono@uksw.eduYari Dwikurnaningsihyari.dwikurnaningsih@uksw.edu<p>Transisi dari PAUD ke SD merupakan fase krusial yang dapat menimbulkan kecemasan pada anak akibat perbedaan paradigma belajar. Artikel best practice ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis implementasi program "Layanan Orientasi Ceria" sebagai solusi inovatif untuk memfasilitasi transisi yang mulus. Maksud dari artikel ini adalah menyajikan sebuah model praktik baik yang teruji dan dapat direplikasi oleh sekolah lain. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif, dengan triangulasi data melalui observasi, wawancara, dan angket terhadap 30 siswa kelas 1, orang tua, guru, dan kepala sekolah di SDN Karangtengah 01. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan holistik yang mengintegrasikan tiga pilar; pra-orientasi psikologis, orientasi berbasis permainan, dan kemitraan proaktif dengan orang tua secara signifikan berhasil mengurangi kecemasan siswa, meningkatkan kesiapan sosial-emosional, dan membangun fondasi belajar yang kokoh. Disimpulkan bahwa "Layanan Orientasi Ceria" efektif dalam mengubah rasa gugup menjadi antusiasme dan kemandirian, membuktikan bahwa investasi pada kesejahteraan emosional di masa transisi adalah landasan esensial bagi perkembangan anak.</p>2025-12-31T00:00:00+00:00##submission.copyrightStatement##https://ejournal.iahntp.ac.id/index.php/Satya-Sastraharing/article/view/1537Transisi Guru Pedalaman Papua dalam Menghadapi Perubahan Lingkungan dan Psikososial: Kajian dengan Model Bridges Transition2026-01-22T10:34:20+00:00Vilia Dechressya Tomatala942024027@student.uksw.eduSophia Tri Satyawatisophia.trisatyawati@uksw.eduYari Dwikurnaningsihyari.dwikurnaningsih@uksw.edu<p>Penugasan guru di daerah pedalaman dan rawan konflik di Papua menghadirkan tantangan unik, terutama ketika terjadi perubahan mendadak seperti relokasi paksa akibat situasi keamanan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses transisi psikososial yang dialami oleh guru-guru yang dipindahkan dari pedalaman ke kota, dengan menggunakan kerangka <em>Bridges Transition Model</em>. Melalui pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, data dikumpulkan dari wawancara mendalam dengan empat guru yang terdampak dan satu kepala sekolah yang mengelola perubahan tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa para guru secara jelas melewati tiga fase transisi. Fase pertama, <em>Ending, Losing, Letting Go</em>, ditandai oleh perasaan sedih, kehilangan, dan kekecewaan yang mendalam karena harus meninggalkan siswa dan rutinitas secara tiba-tiba. Fase kedua, <em>The Neutral Zone</em>, merupakan periode kebingungan, ketidakpastian peran, dan tantangan adaptasi terhadap lingkungan kerja serta budaya baru di kota. Fase ketiga, <em>The New Beginning</em>, ditandai dengan penerimaan bertahap, pembentukan rutinitas baru, dan penemuan identitas profesional yang baru, meskipun dengan kecepatan yang berbeda-beda. Dukungan kepemimpinan yang empatik dari kepala sekolah dan solidaritas rekan sejawat menjadi faktor krusial dalam membantu guru menavigasi zona netral yang sulit. Kesimpulannya, Model Transisi Bridges terbukti menjadi alat analisis yang efektif untuk memahami dimensi psikologis dari manajemen perubahan, serta menekankan pentingnya dukungan manajerial yang terstruktur dalam memfasilitasi transisi guru di situasi krisis.</p>2025-12-31T00:00:00+00:00##submission.copyrightStatement##https://ejournal.iahntp.ac.id/index.php/Satya-Sastraharing/article/view/1565Efektifitas Anggaran Pendidikan di Daerah 3T: Kajian Literatur2026-01-22T10:34:20+00:00Julita Maya Jalnuhuubunjalmaymey@gmail.comEsalina Y Djutayensalinadjutay24@gmail.com<p>Penelitian ini menganalisis efektivitas pengelolaan anggaran pendidikan di daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T) melalui kajian pustaka sistematis. Hasil menunjukkan bahwa keterlambatan distribusi dana, kapasitas manajemen sekolah yang terbatas, infrastruktur yang kurang memadai, dan rendahnya partisipasi masyarakat menurunkan efektivitas, sedangkan kebijakan afirmatif pemerintah dan pemanfaatan teknologi digital meningkatkan efektivitas. Rekomendasi strategis meliputi penguatan kapasitas manajemen sekolah, percepatan distribusi dana, dan implementasi sistem digital untuk meningkatkan tata kelola anggaran.</p> <p> </p>2025-12-31T00:00:00+00:00##submission.copyrightStatement##https://ejournal.iahntp.ac.id/index.php/Satya-Sastraharing/article/view/1568Etika Guru dan Peningkatan Kualitas Pendidikan Agama Hindu2026-01-22T10:34:20+00:00Dewi Sintadewisinta41@guru.sma.belajar.idPutu Diapurnamanputudiapurnamankps@gmail.comAgung Adiagungadi@iahntp.ac.id<p>Public debates on the quality of education in Indonesia are often marked by empirical assumptions that place doubts on educational outcomes by attributing them primarily to the low professionalism of teachers. Such assumptions tend to oversimplify the problem, given that education is inherently a complex system involving interrelated structural, cultural, pedagogical, and ethical dimensions. Prematurely justifying teachers as the sole determinant of educational shortcomings therefore requires critical reexamination. This article aims to analyze issues of educational quality, with specific attention to Hindu Religious Education, through the lens of teacher ethics derived from Hindu teachings. The shift in the essence of the educator’s role, from the teacher as a moral authority, value bearer, and role model toward learning paradigms that emphasize student-centered activity, is viewed as potentially generating ethical tension when not accompanied by strong moral integrity and responsibility on the part of teachers. Within this context, religion is positioned as a primary source of ethical and moral values with a strategic function in the formation of a civilized society. Hinduism, as one of the religious subjects taught in Indonesian schools, contains a rich corpus of ethical teachings that remain highly relevant as foundations for teacher professionalism. This study employs a qualitative descriptive approach based on a literature review of Hindu scriptures, academic works, and relevant prior studies. The discussion focuses on the nature of ethics in Hindu teachings, the concept of the teacher within Hindu tradition, and the application of sattvic qualities, wiweka (moral discernment), honesty, wisdom, and justice in the teaching and learning process. The findings indicate a persistent gap between the ethical ideals of Hindu teachings and the actual practice of Hindu religious instruction in schools, which remains predominantly oriented toward cognitive achievement rather than lived experience, moral exemplarity, and practical application of values. Consistent integration of Hindu ethics into pedagogical practice is therefore expected to enhance the quality of Hindu Religious Education by balancing cognitive, affective, and psychomotor domains while strengthening the teacher’s role as an agent of dharma within the educational system</p>2025-12-31T00:00:00+00:00##submission.copyrightStatement##https://ejournal.iahntp.ac.id/index.php/Satya-Sastraharing/article/view/1844Integrasi Pendekatan Sosial-Emosional dalam Manajemen Pembelajaran di Sekolah Dasar2026-01-22T10:34:20+00:00Raisa Vienlentiaraisavien@gmail.comKatrin Katrinibukatrinspd@gmail.com<p>Artikel ini membahas integrasi Social Emotional Learning (SEL) berbasis kerangka CASEL dalam manajemen pembelajaran di sekolah dasar melalui kajian literatur. Fokus pembahasan mencakup kontribusi lima kompetensi SEL terhadap iklim kelas, keterlibatan siswa, serta efektivitas pembelajaran. Hasil telaah menunjukkan bahwa penerapan SEL secara konsisten membantu meningkatkan regulasi emosi, interaksi sosial, dan fokus belajar siswa. Di Indonesia, pendekatan ini sejalan dengan kebijakan pendidikan yang menekankan penguatan karakter, meskipun masih menghadapi tantangan seperti kesiapan guru dan kondisi kelas yang beragam. Artikel ini menekankan pentingnya strategi yang adaptif dan berbasis konteks agar integrasi SEL dapat mendukung manajemen pembelajaran yang lebih inklusif dan berkelanjutan.</p>2025-12-31T00:00:00+00:00##submission.copyrightStatement##