NILAI ETIKA DAN MORALITAS DI TINJAU DARI AJARAN RAMAYANA

  • Handoko Handoko IAHN Tampung Penyang

Abstract

Memasuki jaman sekarang ini sangat  jelas terlihat bahwa Dharma sudah kehilangan jati dirinya sehinga banyak umat manusia yang prilakunya melenceng dari ajaran dharma. Jaman ini ditandai dengan prilaku umat manusia, baik itu laki-laki dan perempuan kehilangan sifat mulianya, parapedagang dan politisi akan melakukan pekerjaan yang kotor, para pandita akan jatuh dan hidup dengan orang-orang hina. Para pekerja akan menjadi pemimpin seperti pandita, para pemimpin dan politisi mestinya melindungi masyarakat, malahan menjadi perampok rakyat  dengan melakukan Koropsi. Sekilas memang tampak adanya  Jaman Sekarang ini kalau kita hubungkan dengan  ajaran agama Hindu adalah Jaman Kali Yoga atau jaman Kolo Bendu  dengan keadaan umat manusia saat ini, namun perlu digaris bawahi apa sesungguhnya yang menjadi faktor degradasi moral tersebut. Umat manusia di jaman Sekarang cenderung terikat kepada hal-hal keduniawian yang menjanjikan kebahagiaan jasmani semata, dan menegesampingkan kebahagiaan rohani.

Putra Raja Dasaratha bernama Sri Rama yang menyelamatkan dunia dari kehancuran akibat keangkuhan dan kesombongan seorang raja raksasa bernama Ravana. Dalam Perjalanan  Sri Rama untuk menegakkan kebenaran (dharma ) memang tidak mudah, meskipun beliau adalah avatara Visnu, namun tidak luput dari siklus hidup layaknya manusia, hanya saja kualitas beliau berbeda dari manusia umunya. Sebagai seorang anak, yang berbakti  orang tuanya, dan sebagai saudara tertua, beliau mengasihi adik-adiknya dan bersikap adil dan bijak sana, sebagai suami, beliau juga adalah suami yang mempunyai rasa tanggung jawab.Sebagai seorang raja beliau sangat memperhatikan kehidupan rakyatnya dan memimpin atas nama rakyat, karena kebahagiaan rakyat adalah kebahagiaan raja. Intisari atau pokok-pokok ajaran dalam epos Ramayana meyiratkanberbagai permasalahan dalam kehidupan manusia.

Dasaratha, Bharata, Laksmana, Sita, Hanuman, Vibisana, Jatayu, dan lain-lain patut dijadikan teladan berdasarkan karakter mereka masing-masing. Ketika berbicara etika seorang suami, berkacalah kepada karakter Sri Rama. Dewi Sita adalah sosok istri ideal. Demikian pula ketika berbicara etika seorang Raja melihat karakter Dasaratha, Sri Rama, dan Bharata. Laksmana, Hanuman dan Jatayu sebagai simbol kesetiaan. Vibisana sebagai sombol kebajikan.

Kata Kunci: Etika, Moral dan Ramayana

References

Jendra, I Wayan. 1998. Dharmatula Dialog Intern Umat Hindu. Surabaya: Paramita.
Kadjeng, I Nyoman dkk.1997. Sarasamuccaya. Surabaya : Paramita.
Mertha, I Nengah. 2009. Menggantang Hidup di Jaman Kaliyuga. Denpasar : Widya Dharma.
Nasution, S. 2010. Sosiologi Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara.
Pasek, dkk. 1982. Nitisastra. Proyek Pembinaan Mutu Pendidikan Agama Hindu dan Budha Departemen Agama Republik Indonesia.
Pudja, G. dan Tjokorda Rai Sudharta. 1976. Manava Dharma Sastra. Jakarta : Co.Junesco.
Semadi, Anak Agung Gde Putra. 1992. Materi Pokok Wiracarita. Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu dan Buddha dan Universitas Terbuka.
Sindhu, Ida Bagus Kade, dkk. 1981. Pengantar Tattwa Darsana Pilsafat. Departemen Agama RI Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu dan Budha.
Subramaniam, Kamala. 2004. Ramayana. Surabaya: Paramita.
Sidharta, Tjok. 2003. Slokantara Untaian Ajaran Etika. Surabaya: Paramita.
Suhardana, K.M.2006. Memaknai Kesejagatan Agama Hindu. Denpasar : PT. Empat Warna Komunikasi.
Suriasumantri, Jujun S. 2003. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan.
Suseno, Franz Magnis. 1987. Etika Dasar Masalah-masalah Pokok Filsafat Moral. Yogyakarta : Kanisius.
Titib, I Made. 2003. Menumbuhkembangkan Pendidikan Budhi Pekerti pada Anak (Perspektif Agama Hindu). Jakarta : Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat.
_______. 2004. Purana Sumber Ajaran Hindu Komprehensip. Surabaya: Paramita.
_______. 2011. Bahan Ajar Itihasa (Viracarita) Ramayana & Mahabharata Kajian Kritis Sumber Ajaran Hindu. IHDN Denpasar.
Viresvarananda, Svami. 2009. Brahma Sutra Pengetahuan tentang Ketuhanan. Surabaya: Paramita
Published
2016-06-30