Bawi Ayah: Jurnal Pendidikan Agama dan Budaya Hindu https://ejournal.iahntp.ac.id/index.php/bawiayah <p>Bawi Ayah: Jurnal Pendidikan Agama dan Budaya Hindu with e-ISSN 2614-1744 and p-ISSN 2089-6573 is a peer-reviewed journal published by the Department of Dharma Acarya STAHN-TP Palangka Raya. Published twice a year, in April and October. This journal publishes the latest review of the results of thoughts and research on religious education and cultural studies in Hindu Religion.</p> en-US kmertayasa19@gmail.com (I Komang Mertayasa) bawiayahfda@gmail.com (I Komang Mertayasa) Thu, 31 Oct 2019 00:00:00 +0000 OJS 3.1.1.2 http://blogs.law.harvard.edu/tech/rss 60 AGNIHOTRA : VEDIC RITUAL YANG MULTIFUNGSI https://ejournal.iahntp.ac.id/index.php/bawiayah/article/view/388 <p>Agama Hindu merupakan salah satu agama besar yang diakui diseluruh dunia dan merupakan agama tertua yang berdiri di atas pondasi Tri Kerangka Dasar Agama Hindu, yakni <em>Tattva </em>atau filsafat agama Hindu, <em>Susila</em> atau etika agama Hindu, dan <em>Upacara </em>atau ritual agama Hindu. Tri Kerangka Dasar Agama Hindu ini diibaratkan seperti sebutir telur, dimana kuning telurnya merupakan <em>tattva, </em>putih telurnya adalah <em>susila </em>serta kulit telurnya diibaratkan sebagai <em>upacara. Upacara </em>atau ritual inilah merupakan bagian dari Tri Kerangka Dasar agama Hindu yang dapat dengan mudah dilihat dan dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Berbagai macam ritual agama Hindu dilaksanakan oleh umat, salah satunya adalah <em>upacara agnihotra. </em><em>Agnihotra</em> adalah <em>upacara</em> persembahan kepada <em>Deva Agni </em>yang&nbsp; kerap disebut dengan istilah <em>Vedic ritual</em> atau juga disebut <em>Vedic Fire Ceremony. </em>Meskipun istilah <em>agnihotra </em>terdengar asing ditelinga umat Hindu, namun pada dasarnya simbolisasi dari <em>anihotra </em>ada dalam setiap ritual keagamaan di Bali yakni dalam bentuk <em>pasepan. Upacara agnihotra </em>&nbsp;sendiri memiliki beberapa fungsi yang berkaitan juga dengan fungsi api itu sendiri sebagai bagian terpenting dari <em>upacara agnihotra. </em>Adapun fungsi dari <em>upacara Agnihotra </em>antara lain : <em>agnihotra </em>sebagai inti <em>yajna, agnihotra </em>sebagai perantara pemuja dengan yang dipuja, <em>agnihotra </em>sebagai penyucian, <em>agnihotra </em>sebagai penerangan, <em>agnihotra </em>sebagai sumber energi, <em>agnihotra </em>sebagai sarana peningkatan spiritual serta <em>agnihotra </em>untuk keharmonisan.</p> Ayu Veronika Somawati, Ni Made Yunitha Asri Diantary ##submission.copyrightStatement## https://ejournal.iahntp.ac.id/index.php/bawiayah/article/view/388 Thu, 07 Nov 2019 06:21:36 +0000 ESENSI TRI HITA KARANA PERSPEKTIF PENDIDIKAN AGAMA HINDU https://ejournal.iahntp.ac.id/index.php/bawiayah/article/view/373 <p>Tri Hita Karana merupakan konsep dasar yang mengharapkan manusia untuk menjaga hubungan diantara ketiga unsur sehingga dapat mencapai kebahagiaan. Ketiga unsur tersebut yaitu antara manusia dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa (<em>Parhyangan</em>)<em>,</em> antara manusia dengan sesamanya (<em>Pawongan</em>), antara manusia dengan lingkungannya (<em>Palemehan</em>). Kecenderungan manusia dewasa ini hanya mengejar materi dan itu dimaksudkan untuk dapat memenuhi kebahagiaan di dunia, sehingga hakekat dari kehidupan yang sejati sudah mulai tersingkirkan oleh ego untuk pemenuhan hal yang bersifat maya. Oleh karena itu diperlukan pemahaman yang komprehensif mengenai hakekat penyebab kebahagiaan dan kedamaian dengan terus belajar dalam mengembangkan hal-hal yang mampu mengantarkan pada kebahagiaan dan kedamaian. Bahagia atau tidaknya seseorang tergantung dari pikiran dalam menyikapi segala sesuatu yang terjadi baik jasmani maupun rohani. Oleh karena itu Pikiran hendaknya selalu diarahkan dan dilatih serta dikontrol agar selalu berpikir yang baik. Beberapa esensi Tri Hita Karana sebagai aspek pembelajaran pendidikan agama hindu yaitu Esensi spiritual (<em>Parhyangan</em>) yaitu untuk selalu tulus ikhlas serta bersyukur atas apapun yang dialami; Esensi sosial (<em>Pawongan</em>) yaitu memupuk rasa cinta kasih dalam kehidupan masyarakat; Esensi Alam Lingkungan (<em>Palemahan</em>) yaitu menjaga lingkungan sekitar sehingga memberi manfaat bagi kehidupan mahluk.</p> Lilik Lilik, I Komang Mertayasa ##submission.copyrightStatement## https://ejournal.iahntp.ac.id/index.php/bawiayah/article/view/373 Thu, 31 Oct 2019 12:07:22 +0000 PROFESIONALISME PUSTAKAWAN DALAM AJARAN HINDU DI ERA PERSAINGAN GLOBAL https://ejournal.iahntp.ac.id/index.php/bawiayah/article/view/367 <p>The concept of librarian professionalism and personality is a concept that has long been proclaimed and scheduled but, over time, the concept is as if forgotten and not glimpsed. If we may see the librarian is the main gate in providing services in the library. Librarians are also the driving engine (main engine) for the progress of a library.</p> <p>A librarian is required to be proficient at work, having good human resources (HR) and no less important is sounding good ethics and personality. In addition it must look attractive. A librarian has a good and attractive appearance reflected by his personality and good ethics. To have it all, a librarian must work from the heart, sincerely and sincerely devote himself. Personality and good ethics can not be easily formed but it requires effort and hard work and a sincere desire to achieve it.</p> <p>In the teachings of Hinduism the professionalism of a work (librarian) is in the books of Manawa Dharmasastra Sloka 100 and 161, the book Bhagawad Gita (Bh. G. XVI. 1) and (Bh. G. XVI. 2) and the book Sarasamuscaya sloka 300 and 302. In essence the above sloka teaches how a human being (librarian) behaves well in carrying out his work such as being honest, polite, not easily angry, gentle, not lying and working hard.</p> I Gusti Ayu Ketut Yuni Masriastri, Elekmida Sinaga ##submission.copyrightStatement## https://ejournal.iahntp.ac.id/index.php/bawiayah/article/view/367 Thu, 31 Oct 2019 11:54:48 +0000